This review may contain spoilers
A wholesome journey wrapped in music, family, and time
Awalnya aku nonton karena penasaran sama kehadiran June iKON yang banyak diomongin netizen. Turns out, banyak juga yang baru tahu dia dari drama ini dan lupa kalau dia dulu (sekitar tahun 2018) sempat viral sebagai idol. DIA YANG NYANYI LOVE SCENARIO GUYSSS 😭😭😭 Sebagai kpopers yang pernah cukup ngikutin iKON dan masih suka beberapa lagu mereka sampai sekarang, of course I had to check this out. dan hasilnya? I got way more than I expected. Aku namatin drama ini hanya salam sehari dan semuanya worth it. Setiap menitnya terasa berharga banget. Best 16 hours of time I've ever spent.Cerita dimulai dari Ha Eungyeol, seorang anak CODA (Child of Deaf Adults), yang jadi jembatan utama antara keluarganya dengan dunia luar. Kehidupannya nggak mudah—keluarganya sering dipandang sebelah mata, mereka tinggal di lingkungan yang kurang layak, dan dia sendiri jadi korban bullying. Tapi justru dari situ aku bisa lihat betapa tulus dan kuatnya cinta dalam keluarga ini. Ada warmth yang nggak bisa dijelaskan. Sweet yet painful, but mostly just pure love.
Dari satu momen di depan toko Viva Music, hidupnya berubah. Musik jadi jembatan menuju takdir baru, dan dari situ dimulailah perjalanan time travel yang penuh kejutan dan makna.
Jujur aku gak terlalu fokus sama genre romance-nya, karena yang lebih membekas di hati justru family bond, friendship, dan fantasy journey yang mereka bangun sepanjang cerita. Setiap episode saling terhubung dengan rapih, nggak ada plot yang terasa kosong. Pace-nya pas, nggak lambat tapi juga nggak terburu-buru. Semua dibuat mengalir alami, dan sebagai penonton aku ikut hanyut sepenuhnya. It truly felt like I was time traveling with them.
Ryeoun as Ha Eungyeol tampil luar biasa keren! Karakter Eungyeol yang tulus, tenang, tapi punya dedikasi besar untuk keluarganya bener-bener ngena di hati. He's kinda son everyone wishes for. Usahanya untuk memperbaiki masa depan keluarganya bukan cuma menyentuh, tapi juga sangat menginspirasi.
Dan of course, June sebagai Jihwan sukses curi perhatian aku sejak awal. Lagu Higher yang dia nyanyiin di awal episode langsung jadi highlight buat aku. OST lainnya juga gak kalah bagus! Shining selalu sukses bikin aku merasa seolah aku lagi menjalani hari paling bahagia dalam hidupku. Seriously, musik di drama ini bukan cuma pelengkap, tapi benar-benar jadi soul of the story.
Aku juga suka banget sama gimana tiap karakter nya berkembang. Nggak ada yang terasa tempelan. Semua dikasih atar belakang, konflik, dan perkembangan yang konsisten dan menyentuh. Persahabatan mereka tuh solid banget nget ngeettt. Rasanya kayak lagi nonton kombinasi antara petualangan masa muda dan pelajaran hidup yang dalam. Belum lagi sentuhan komedinya yang selalu pas. Pokoknya tiap episode tuh core, kayak kata netizen, "Twinkling Watermelon isinya core semuaaa WKWKWK." And yes, I couldn't agree more. Setting tahun 1995-nya juga bikin aku belajar hal-hal baru. Alat komunikasi kayak faksimile, suasana era itu yang klasik, semuanya bikin pengalaman nonton jadi lebih kaya dan memorable.
In the end, ini bukan sekadar drama tentang time travel. Ini tuh menggambarkan kisah tentang mimpi, harapan, keluarga, pengorbanan, dan pilihan. Tentang cinta yang nggak perlu selalu diucapkan dengan kata, tapi terasa lewat tindakan dan tatapan.
Twinkling Watermelon is one of the best K-dramas I've ever watched. Heartfelt, brilliant, and completely unforgettable. Cocok banget ditonton buat kalian yang penasaran sama alur cerita yang berbeda dari drama kebanyakan, pengen dibikin penasaran dari setiap scene dan episode nya, terharu sama friendship and family bond yang kuat, dan representasi akan cinta yang tulus, tapi dengan nggak mengutamakan genre romance. Fantasy nya terkesan modern tapi make sense. HIGHLY RECOMMENDED DEHHH POKOKNYA. Wajib banget ditonton! Tapi sehabis nonton nanti, jangan marah apalagi kecewa sama takdirnya Ha Yichan ya. Karena kan tugas Eungyeol dari awal itu cuma untuk mengubah nasib kedua orang tuanya jadi lebih baik, bukan untuk mengubah takdir mereka di masa depan. Happy watching teman-teman! VIVA LA VIDA 🍉✨️
Was this review helpful to you?
This review may contain spoilers
Where first love becomes the final destination
This drama is like a warm embrace in story form—quiet, tender, and deeply comforting. From the very first episode, it wraps you in a gentle atmosphere that doesn't try to rush or impress. It simply invites you to feel. The pacing is steady, never too fast or slow, allowing every connection and every unspoken emotion to bloom naturally over time.What moved me the most was how every character learned to let go. Lee Hongju is surrounded by some of the most supportive friends I've seen in a K-drama. Even when Kim Hyeji realizes she likes the same person as her best friend, she doesn't hold on selfishly—she steps back, knowing that Hongju and Hooyoung are meant for each other. The same goes for Kwon Sangpil, who quietly lets go of his own first love, Hyeji, because he sees how much happier she is with someone else.
They each let go of their first loves. And in doing so, they all find something softer and brighter fate they never expected, but one they deserved.
People often say "trios never work." But here? They do. Because love isn't treated like a battleground. It's a space for growth, acceptance, and quiet courage.
The red string theory runs through this story in the most delicate way. Not just between lovers, but between friends, between people who once hurt each other, and between past and present selves. It's not used for drama—it's used for healing.
Serendipity's Embrace isn't flashy. It doesn't demand your attention, it earns your affection. A true comfort drama. Warm, thoughtful, and filled with a love that doesn't have to shout to be felt.
I'll carry this one gently in my heart for a long time. 🤍
Was this review helpful to you?

