i just started reading the novel today, i also wish they show more how she build her business, strolling around…
yeah, can't help but compare adaptation. ๐ i rarely read novel, but im heavy manhwa reader- and most of it has disappointing live action. i will pick up the novel again only once the drama ends.
Overall, I'm liking this drama. But because I have read the novel, I miss that the drama does not show how much…
i just started reading the novel today, i also wish they show more how she build her business, strolling around the market, comparing the prices, researching menu, such details that make her day- now i put the novel on hold first to stop myself comparing the differences ๐
so many new characters, i need character chart or something to keep on track lmao ๐ญ. i guess it is obvious this far, the pm wei groom ml to be his puppet, but ml hold much military power than expected hence why he was about assassinated. this prime minister wei working with the army general he > he hides something from wei and protect the two sisters from afar. his motive is for the great yin so he is a positive character maybe atp. general he and commander li? are master and student right? what is the background of li's family? there is also gongsun yin, ml's bestfriend, and at his academy, there is female character cosplaying to be a student that seems to be gsy's love interest? who is she? then in the preview, there is new grey haired character connected with yqq??
I saw somewhere... Court official tends to gossip among themselves when attending the emperor.... So in some dynasty…
good intention to keep them away from whispering- but based on latest ep, i don't think it works, must be why they modified it again in later dynasty ๐ญ๐
the duet fight in latest ep is cool and beautifully shot, i love how compatible their combat skill is, i can't wait to see they train together and level up ๐
dropped, korea need to stop being US little puppet and insert their middle east terrorist propaganda, this isnt the first time they are using middle east country for little entertainment, smearing and appropriating.
I'm confused. Why did they not show some other battles? It's such a great show but them cutting out segments like…
i assume they cut a lot of the misprediction answer one- the contestant are in the survival show risking their "service" career to get more customer, the production team don't want to ruin their job even if they are not spot on.
Karena ramai sekali perbincangan Pasar Seni ITB. Ingin sekali diskusi soal pentas seni sekolah. Kebetulan saya alumni dari salah satu SMA yang punya ritual- eh acara tahunan maksudnya berbentuk Pensi / Pentas Seni. Dibilangnya sih Pentas Seni, tapi untuk isi acara lebih masuk ke konser musik.
Sepanjang 3 tahun jadi pelajar, ada banyak pengalaman yang asyik kayanya untuk diceritakan perihal acara sekolah ini. Dan mungkin cerita ini bisa jadi jendela buat pengunjung event, bagaimana sih perkeosan anak anak sekolah dibalik sebuah acara. Meskipun skalanya beda jauh, tapi saya yakin ada kemiripan di sistemnya. Yuk mulai!
1. Kepanitiaan : Sukarela / Paksaan? Saat masuk ke tahun baru ajaran, ada yang namanya ospek? Masa orientasi dan di saat itulah para senior masuk untuk rekruit bocah bocah ingusan lulusan SMP ini ( termasuk saya ). Pentas Seni nya diperkenalkan lewat "kaderisasi", jujur waktu itu tidak mengerti apa apa lalu disodorkan kertas formulir kepanitiaan. Ya~ karena diancam belum boleh pulang sebelum diisi, ya isi aja deh apapun. Selama tiga tahun di SMA, mau tidak mau semua siswa ikut jadi panitia acaranya karena sudah masuk ke "tradisi", sebuah acara kebanggaan sekolah. "Ini wajib". Saat naik kelas pun sama, sudah "giliran".
2. Hierarki dan Senioritas Tradisi turun menurun, dari angkatan ke angkatan. Ya! Ada hierarki di kepanitiaan acara. Kelas 10 : Budak tetek bengek perintilan. Kelas 11 : Koordinator dari panitia inti ke para budak. Kelas 12 : Panitia Inti. Di jaman saya juga, senioritas masih kental, ada rasa "segan" ke kakak kelas dibanding "hormat". Minusnya, para budak- maksudnya anak baru tidak tahu menahu soal inti acara. Mereka ya ... jadi budak saja, diperintah untuk ini dan itu. Buat bertanya pun segan, karena rasanya masih belum berhak untuk tahu. "Nanti naik kelas, bakal giliran kalian!".
3. Uang dan Ego Pentas Seni yang tidak mengejar uang! Non-profit event tapi tetap ingin mengundang bintang tamu kelas atas. Ego besar tapi dompet anak SMA kecil. Alhasil, setiap hari setiap anak dimintai uang dan harus setor ke panitia demi acara "berhasil". Disaat yang bersamaan, ada panitia danus, yang mengetuk setiap kelas dengan box makanannya. "Ayo beliiii danusss". Ada panitia acara yang jadi "sales" tiket konser, setiap anak tiga tiket, kalau tidak terjual ya harus ditombok sendiri ( Kebetulan saya juga kena, lumayan berapa ratus ribu buat talangin "tiket" ). Ada rasanya tekor dengan pengeluaran. Ada beberapa kali bolak balik beli bahan kepanitiaan dari sekolah - toko, naik motor, bensin habis, uang makan habis. Tidak ada sistem reimburse- karena balik lagi, sukarela.
4. Apa itu kewajiban anak sekolah? Tentu saja Pentas Seni tidak jadi prioritas buat semua murid. Meski membawa nama sekolah, partisipasi setiap anak tidak 100% setara. Ada yang tidak peduli dan fokus dengan belajarnya, ada yang kabur dari kepanitiaan untuk main, ada yang tidak punya pikiran apa apa karena di rumahnya sedang "kacau". Tapi apa murid yang tidak partisipasi itu salah? Ya tidak, namanya juga acara sukarela. Mereka menjalankan ini bukan sebagai profesional. Kewajiban mereka ya belajar dan patuh dengan orang tua. Bayarannya paling dicap "apatis", tidak "solid", kalau jaman kuliah mungkin terkenalnya "kupu - kupu"- kuliah pulang. Tapi mana mungkin kan menyatukan ratusan otak kalau acaranya sendiri dilandasi keterpaksaan?
Jujur, meskipun banyak minusnya tapi jadi mengerti kenapa Pensi tersebut jadi tradisi. Saat acara selesai, cuman ada rasa capek sih.. tapi saat sudah lulus dan mau mengenang SMA, ada banyak memori lucu, menyenangkan, dan sedih. Emosi polos dan antusiasme masa muda yang kayanya tidak akan ada lagi saat sudah dewasa. Bagaimana teman - teman, menurut kalian jadi panitia acara begini worth it atau tidak?
i guess it is obvious this far, the pm wei groom ml to be his puppet, but ml hold much military power than expected hence why he was about assassinated.
this prime minister wei working with the army general he > he hides something from wei and protect the two sisters from afar. his motive is for the great yin so he is a positive character maybe atp.
general he and commander li? are master and student right? what is the background of li's family?
there is also gongsun yin, ml's bestfriend, and at his academy, there is female character cosplaying to be a student that seems to be gsy's love interest? who is she?
then in the preview, there is new grey haired character connected with yqq??
Karena ramai sekali perbincangan Pasar Seni ITB. Ingin sekali diskusi soal pentas seni sekolah. Kebetulan saya alumni dari salah satu SMA yang punya ritual- eh acara tahunan maksudnya berbentuk Pensi / Pentas Seni. Dibilangnya sih Pentas Seni, tapi untuk isi acara lebih masuk ke konser musik.
Sepanjang 3 tahun jadi pelajar, ada banyak pengalaman yang asyik kayanya untuk diceritakan perihal acara sekolah ini. Dan mungkin cerita ini bisa jadi jendela buat pengunjung event, bagaimana sih perkeosan anak anak sekolah dibalik sebuah acara. Meskipun skalanya beda jauh, tapi saya yakin ada kemiripan di sistemnya. Yuk mulai!
1. Kepanitiaan : Sukarela / Paksaan?
Saat masuk ke tahun baru ajaran, ada yang namanya ospek? Masa orientasi dan di saat itulah para senior masuk untuk rekruit bocah bocah ingusan lulusan SMP ini ( termasuk saya ). Pentas Seni nya diperkenalkan lewat "kaderisasi", jujur waktu itu tidak mengerti apa apa lalu disodorkan kertas formulir kepanitiaan. Ya~ karena diancam belum boleh pulang sebelum diisi, ya isi aja deh apapun. Selama tiga tahun di SMA, mau tidak mau semua siswa ikut jadi panitia acaranya karena sudah masuk ke "tradisi", sebuah acara kebanggaan sekolah. "Ini wajib". Saat naik kelas pun sama, sudah "giliran".
2. Hierarki dan Senioritas
Tradisi turun menurun, dari angkatan ke angkatan. Ya! Ada hierarki di kepanitiaan acara. Kelas 10 : Budak tetek bengek perintilan. Kelas 11 : Koordinator dari panitia inti ke para budak. Kelas 12 : Panitia Inti. Di jaman saya juga, senioritas masih kental, ada rasa "segan" ke kakak kelas dibanding "hormat". Minusnya, para budak- maksudnya anak baru tidak tahu menahu soal inti acara. Mereka ya ... jadi budak saja, diperintah untuk ini dan itu. Buat bertanya pun segan, karena rasanya masih belum berhak untuk tahu. "Nanti naik kelas, bakal giliran kalian!".
3. Uang dan Ego
Pentas Seni yang tidak mengejar uang! Non-profit event tapi tetap ingin mengundang bintang tamu kelas atas. Ego besar tapi dompet anak SMA kecil. Alhasil, setiap hari setiap anak dimintai uang dan harus setor ke panitia demi acara "berhasil". Disaat yang bersamaan, ada panitia danus, yang mengetuk setiap kelas dengan box makanannya. "Ayo beliiii danusss". Ada panitia acara yang jadi "sales" tiket konser, setiap anak tiga tiket, kalau tidak terjual ya harus ditombok sendiri ( Kebetulan saya juga kena, lumayan berapa ratus ribu buat talangin "tiket" ). Ada rasanya tekor dengan pengeluaran. Ada beberapa kali bolak balik beli bahan kepanitiaan dari sekolah - toko, naik motor, bensin habis, uang makan habis. Tidak ada sistem reimburse- karena balik lagi, sukarela.
4. Apa itu kewajiban anak sekolah?
Tentu saja Pentas Seni tidak jadi prioritas buat semua murid. Meski membawa nama sekolah, partisipasi setiap anak tidak 100% setara. Ada yang tidak peduli dan fokus dengan belajarnya, ada yang kabur dari kepanitiaan untuk main, ada yang tidak punya pikiran apa apa karena di rumahnya sedang "kacau". Tapi apa murid yang tidak partisipasi itu salah? Ya tidak, namanya juga acara sukarela. Mereka menjalankan ini bukan sebagai profesional. Kewajiban mereka ya belajar dan patuh dengan orang tua. Bayarannya paling dicap "apatis", tidak "solid", kalau jaman kuliah mungkin terkenalnya "kupu - kupu"- kuliah pulang. Tapi mana mungkin kan menyatukan ratusan otak kalau acaranya sendiri dilandasi keterpaksaan?
Jujur, meskipun banyak minusnya tapi jadi mengerti kenapa Pensi tersebut jadi tradisi. Saat acara selesai, cuman ada rasa capek sih.. tapi saat sudah lulus dan mau mengenang SMA, ada banyak memori lucu, menyenangkan, dan sedih. Emosi polos dan antusiasme masa muda yang kayanya tidak akan ada lagi saat sudah dewasa. Bagaimana teman - teman, menurut kalian jadi panitia acara begini worth it atau tidak?