Quantcast

Details

  • Last Online: 1 day ago
  • Gender: Female
  • Location:
  • Contribution Points: 0 LV0
  • Roles:
  • Join Date: February 19, 2026
Generation to Generation chinese drama review
Completed
Generation to Generation
0 people found this review helpful
by mascatur
24 days ago
37 of 37 episodes seen
Completed
Overall 8.5
Story 8.5
Acting/Cast 9.0
Music 9.0
Rewatch Value 7.0

Delusi Generasi Tua dan Optimisme yang Terlalu Bahagia


Tadinya kupikir Generation to Generation adalah cerita tentang jarak antar generasi. Ternyata, ia lebih gelap dari itu. Drama ini bercerita tentang sejarah yang tidak bisa dibereskan oleh generasi tua dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai luka dan stigma kolektif. Persoalan itu dimulai dari kisah tentang pendekar wanita bernama Cai Ping Su yang membunuh tokoh aliran iblis dengan mempertaruhkan nyawanya. Narasi ini sekaligus membelah dunia persilatan menjadi dua aliran, hitam dan putih. Tapi sebenarnya kematian Cai Ping Su tidak sesederhana itu. Kematian Cai Ping Su adalah lubang hitam naratif yang menyembunyikan kebenaran seraya menyedot dan membentuk ulang dunia narasi yang berbeda, stigma yang tidak diklarifikasi dan delusi yang dirawat seakan-akan jalan keadilan. Sekte Li disebut aliran iblis, sesungguhnya, bukan karena alasan moral melainkan karena kesepakatan yang terlalu lama tidak dipertanyakan. Tapi kebenaran selalu memiliki jalannya sendiri, setidaknya begitulah yang dikatakan dramanya. Dan sepasang pendekar muda ditakdirkan untuk meluruskan sejarah.
Saya cukup menikmati drama ini. Tokoh Utama diperankan dengan baik oleh Zhou Yi Ran (Mu Qing Yan) dan Bao Shang En (Cai Zhao). Meskipun paras cantik Bao Shang En tidak banyak meninggalkan kesan emosional bagi saya, ia selalu tampil keren, (sama kerennnya ketika dia memerankan Huang Rong dalam the Legend of Condor Hero). Tampaknya ia memang cocok memerankan gadis muda yang ceria dan banyak akal. Saya menyukai pembentukan karakter tokoh Utama tidak dibangun melulu berdasarkan peningkatan kemampuan bela diri khas wuxia klasik sebagaimana sebagian besar tokoh Utama novel Jin Yong, melainkan dari masalah yang muncul dan misteri yang disingkapkan. Penyingkapan kebenaran selangkah demi selangkah membuat penonton semakin memahami karakter para tokohnya. Secara pribadi, saya juga tertarik dengan Yang Xiao Lan (diperankan oleh Duan Yu), salah satu tokoh tidak terlalu penting dalam keseluruhan cerita. Ia tidak punya nama besar, tidak punya warisan bersih dari keluarganya. Sebagai Perempuan, ia bahkan hanya menjadi alat transaksi dan negosiasi untuk pengukuhan status keluarga besar. Tapi ia sangat mengagumi Cai Ping Su. Dan kekagumannya itu berubah menjadi ketulusan untuk belajar. Ia ingin menjadi pendekar golok seperti Cai Ping Su. Ia juga ingin menjadi perempuan tercerahkan yang bisa merebut nasib dan martabatnya sendiri seperti Cai Ping Su. Yang Xiao Lan sedikit mengingatkan saya pada Bambang Ekalaya dalam tokoh pewayangan. Ia belajar dengan tekun dari keterbatasan, mengidolakan sosok yang jauh dan memperlakukannya sebagai guru imajinatif. Nasib Xiao Lan lebih baik daripada Ekalaya. Ia akhirnya mendapatkan jurus golok Mentari Terik yang asli. Karakter kuat yang lain adalah Qi Yun Ke. Tokoh ini mengingatkan saya pada Yue Bu Qun dalam The Smiling Proud Wanderer karya Jin Yong. Tokoh yang dari awal dicitrakan sebagai tokoh paling lurus tapi ternyata justru menyimpan penyimpangan paling mengerikan. Sampai akhir cerita, ia tetap yakin bahwa yang dilakukannya adalah demi kehidupan yang lebih baik.
Drama ini menyarankan sebuah optimisme. Bahwa generasi muda bisa tampil di garis depan sejarah, menyingkap kebenaran yang dibungkam oleh generasi sebelumnya dan memulai sejarah baru yang lebih baik. Sebagai orang Indonesia, tema ini terlalu politis karena mengingatkan saya pada berbagai gerakan pemuda dan mahasiswa dalam milestone sejarah Indonesia. Tapi sejarah memang penuh dengan keretakan dan cerita yang tidak selesai. Kita sering hanya bisa menyaksikan puing-puingnnya. Tapi drama ini juga menyisakan satu pertanyaan kecil,manakah yang lebih berbahaya, kebohongan atau keyakinan yang tidak pernah diperiksa ulang?
Drama ini diakhiri dengan kebahagiaan yang lumayan berlebihan. Mu Qing Yan yang sekarat dalam pertarungan akhir dengan Qi Yun Ke dikisahkah mendapat keajaiban sehingga hidup sehat walafiat dan merayakan pernikahan yang meriah. Bahkan tokoh-tokoh yang mati di episode sebelumnya dibangkitkan kembali demi merayakan akhir yang bahagia ini. Seakan-akan luka yang diwariskan antar generasi bisa dibereskan dengan satu perayaan.
Was this review helpful to you?