Delusi Generasi Tua dan Optimisme yang Terlalu Bahagia
Tadinya kupikir Generation to Generation adalah cerita tentang jarak antar generasi. Ternyata, ia lebih gelap dari itu. Drama ini bercerita tentang sejarah yang tidak bisa dibereskan oleh generasi tua dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai luka dan stigma kolektif. Persoalan itu dimulai dari kisah tentang pendekar wanita bernama Cai Ping Su yang membunuh tokoh aliran iblis dengan mempertaruhkan nyawanya. Narasi ini sekaligus membelah dunia persilatan menjadi dua aliran, hitam dan putih. Tapi sebenarnya kematian Cai Ping Su tidak sesederhana itu. Kematian Cai Ping Su adalah lubang hitam naratif yang menyembunyikan kebenaran seraya menyedot dan membentuk ulang dunia narasi yang berbeda, stigma yang tidak diklarifikasi dan delusi yang dirawat seakan-akan jalan keadilan. Sekte Li disebut aliran iblis, sesungguhnya, bukan karena alasan moral melainkan karena kesepakatan yang terlalu lama tidak dipertanyakan. Tapi kebenaran selalu memiliki jalannya sendiri, setidaknya begitulah yang dikatakan dramanya. Dan sepasang pendekar muda ditakdirkan untuk meluruskan sejarah.
Saya cukup menikmati drama ini. Tokoh Utama diperankan dengan baik oleh Zhou Yi Ran (Mu Qing Yan) dan Bao Shang En (Cai Zhao). Meskipun paras cantik Bao Shang En tidak banyak meninggalkan kesan emosional bagi saya, ia selalu tampil keren, (sama kerennnya ketika dia memerankan Huang Rong dalam the Legend of Condor Hero). Tampaknya ia memang cocok memerankan gadis muda yang ceria dan banyak akal. Saya menyukai pembentukan karakter tokoh Utama tidak dibangun melulu berdasarkan peningkatan kemampuan bela diri khas wuxia klasik sebagaimana sebagian besar tokoh Utama novel Jin Yong, melainkan dari masalah yang muncul dan misteri yang disingkapkan. Penyingkapan kebenaran selangkah demi selangkah membuat penonton semakin memahami karakter para tokohnya. Secara pribadi, saya juga tertarik dengan Yang Xiao Lan (diperankan oleh Duan Yu), salah satu tokoh tidak terlalu penting dalam keseluruhan cerita. Ia tidak punya nama besar, tidak punya warisan bersih dari keluarganya. Sebagai Perempuan, ia bahkan hanya menjadi alat transaksi dan negosiasi untuk pengukuhan status keluarga besar. Tapi ia sangat mengagumi Cai Ping Su. Dan kekagumannya itu berubah menjadi ketulusan untuk belajar. Ia ingin menjadi pendekar golok seperti Cai Ping Su. Ia juga ingin menjadi perempuan tercerahkan yang bisa merebut nasib dan martabatnya sendiri seperti Cai Ping Su. Yang Xiao Lan sedikit mengingatkan saya pada Bambang Ekalaya dalam tokoh pewayangan. Ia belajar dengan tekun dari keterbatasan, mengidolakan sosok yang jauh dan memperlakukannya sebagai guru imajinatif. Nasib Xiao Lan lebih baik daripada Ekalaya. Ia akhirnya mendapatkan jurus golok Mentari Terik yang asli. Karakter kuat yang lain adalah Qi Yun Ke. Tokoh ini mengingatkan saya pada Yue Bu Qun dalam The Smiling Proud Wanderer karya Jin Yong. Tokoh yang dari awal dicitrakan sebagai tokoh paling lurus tapi ternyata justru menyimpan penyimpangan paling mengerikan. Sampai akhir cerita, ia tetap yakin bahwa yang dilakukannya adalah demi kehidupan yang lebih baik.
Drama ini menyarankan sebuah optimisme. Bahwa generasi muda bisa tampil di garis depan sejarah, menyingkap kebenaran yang dibungkam oleh generasi sebelumnya dan memulai sejarah baru yang lebih baik. Sebagai orang Indonesia, tema ini terlalu politis karena mengingatkan saya pada berbagai gerakan pemuda dan mahasiswa dalam milestone sejarah Indonesia. Tapi sejarah memang penuh dengan keretakan dan cerita yang tidak selesai. Kita sering hanya bisa menyaksikan puing-puingnnya. Tapi drama ini juga menyisakan satu pertanyaan kecil,manakah yang lebih berbahaya, kebohongan atau keyakinan yang tidak pernah diperiksa ulang?
Drama ini diakhiri dengan kebahagiaan yang lumayan berlebihan. Mu Qing Yan yang sekarat dalam pertarungan akhir dengan Qi Yun Ke dikisahkah mendapat keajaiban sehingga hidup sehat walafiat dan merayakan pernikahan yang meriah. Bahkan tokoh-tokoh yang mati di episode sebelumnya dibangkitkan kembali demi merayakan akhir yang bahagia ini. Seakan-akan luka yang diwariskan antar generasi bisa dibereskan dengan satu perayaan.
Was this review helpful to you?
sapiens, fiksi dan Cha Mu-hee
Biasanya saya tidak nonton Drama Korea. Tapi hari-hari ini hujan sering turun dan saya iseng menonton Can This Love Be Translated? sambil meringkuk di bawah selimut yang hangat. Sehangat kisah cinta Joo Ho-jin (Kim Seon-ho) dan Cha Mu-hee (Go Youn-jung). Saya sungguh kerepotan menyalin nama mereka. Karena itu, demi kesehatan saya, lebih baik tidak sering-sering saya sebut. Tapi saya ingat pernah menonton Mbak Youn-jung dalam Moving dan Alchemy of Souls—dan dia selalu mempesona. Drama ini berkisah tentang seorang aktris yang jatuh cinta pada seorang penerjemah.
Ada dialog menarik ketika Penulis Park bertanya kepada Ho-jin ada berapa jumlah bahasa di dunia. Ho-jin menjawab, lebih dari 7.100. Penulis Park lalu mengatakan “Jumlah bahasa sama banyaknya dengan jumlah manusia. Karena, setiap orang punya bahasanya sendiri-sendiri”. Ho-jin adalah penerjemah yang setia pada kaidah. Ia punya kecenderungan untuk menerjemahkan secara apa adanya. Justru karena itu, kejujurannya yang lugas dan lurus kerap menyebalkan. Atau malah menyakitkan.
Di sisi lain, Cha Mu-hee adalah "kalimat sembarangan". Ia adalah bahasa yang tumpang tindih dengan maksud dan makna yang berlarian secara acak. Ia bicara A, bermaksud B, tapi bersikeras pada C. Ia selalu bicara ngawur saat canggung atau merasa bersalah. Cha Mu-hee bukan bahasa yang bisa diterjemahkan. Ia butuh dibaca pelan-pelan dan ditafsirkan. Karena itu, memahami Mu-hee adalah laku yang, secara profesional, menantang dan mengguncang konsep Ho-jin tentang bagaimana menerjemahkan;
Saya sering tanpa sengaja tertarik dengan buku-buku yang muncul sekilas dalam drama Korea (atau dalam film manapun, sebenarnya). Terutama, buku yang sudah saya baca. Melihat buku itu muncul di layar membuat saya merasa satu level dengan tokoh dalam drama tersebut. Sungguh perasaan yang konyol. Tapi bagaimana lagi? Kali ini, Sapiens-nya Harari muncul di meja Ho-jin, berserak bersama buku lain. Salah satu scene yang membuka adegan manis dan menggemaskan di drama ini yakni ketika Cha Mu-hee mencuri baca buku-buku Ho-jin sambil memakai kacamatanya; dilanjutkan dengan pura-pura ketinggalan kartu akses kamar hanya supaya bisa bersama dengan Ho-jin lebih lama. Adegan ini seakan menyetujui Harari secara konyol dan bilang, seperti halnya peradaban bisa dimulai dari gosip dan fiksi bersama, cinta juga bisa dimulai dari alasan yang dibuat-buat. Kebohongan manis itu tentu saja ketahuan; sama seperti kebohongan Cha Mu-hee lain yang hampir selalu ketahuan (dan Mbak Go Youn-jung selalu menggemaskan kalau pas ketahuan). Tapi Ho Jin sudah semakin pintar menerjemahkan Mu-hee. Jadi, ia biarkan dan memilih mengikuti alur kebohongan Mu-hee. Seakan ia mengerti, bahasa tidak selalu dipakai untuk menyampaikan maksud tetapi kadang justru untuk menyembunyikannya.
Meminjam terminologi Harari dalam Sapiens tentang kemampuan manusia menciptakan gosip dan fiksi untuk mendominasi bumi, Mu-hee tampaknya justru terjebak dalam "fiksi"-nya sendiri. Persona "Do Ra-mi" identik dengan dirinya dan berhasil menempatkannya di puncak popularitas. Tapi pada saat yang sama, Do Ra-mi juga menjadi teror yang muncul dari sisi gelap hidupnya sendiri. Namun, Ho-jin berhasil melucuti fiksi tersebut, menerjemahkan kegelisahannya, dan mengembalikan Cha Mu-hee sebagai diri yang bisa dicintai apa adanya, tanpa jeratan fiksi dan bias metafora.
Was this review helpful to you?