Quantcast

Details

  • Last Online: 10 days ago
  • Gender: Female
  • Location:
  • Contribution Points: 0 LV0
  • Roles:
  • Join Date: February 19, 2026
Can This Love Be Translated? korean drama review
Completed
Can This Love Be Translated?
0 people found this review helpful
by mascatur
Feb 20, 2026
12 of 12 episodes seen
Completed
Overall 8.5
Story 8.0
Acting/Cast 9.0
Music 7.5
Rewatch Value 8.5

sapiens, fiksi dan Cha Mu-hee


Biasanya saya tidak nonton Drama Korea. Tapi hari-hari ini hujan sering turun dan saya iseng menonton Can This Love Be Translated? sambil meringkuk di bawah selimut yang hangat. Sehangat kisah cinta Joo Ho-jin (Kim Seon-ho) dan Cha Mu-hee (Go Youn-jung). Saya sungguh kerepotan menyalin nama mereka. Karena itu, demi kesehatan saya, lebih baik tidak sering-sering saya sebut. Tapi saya ingat pernah menonton Mbak Youn-jung dalam Moving dan Alchemy of Souls—dan dia selalu mempesona. Drama ini berkisah tentang seorang aktris yang jatuh cinta pada seorang penerjemah.
Ada dialog menarik ketika Penulis Park bertanya kepada Ho-jin ada berapa jumlah bahasa di dunia. Ho-jin menjawab, lebih dari 7.100. Penulis Park lalu mengatakan “Jumlah bahasa sama banyaknya dengan jumlah manusia. Karena, setiap orang punya bahasanya sendiri-sendiri”. Ho-jin adalah penerjemah yang setia pada kaidah. Ia punya kecenderungan untuk menerjemahkan secara apa adanya. Justru karena itu, kejujurannya yang lugas dan lurus kerap menyebalkan. Atau malah menyakitkan.
Di sisi lain, Cha Mu-hee adalah "kalimat sembarangan". Ia adalah bahasa yang tumpang tindih dengan maksud dan makna yang berlarian secara acak. Ia bicara A, bermaksud B, tapi bersikeras pada C. Ia selalu bicara ngawur saat canggung atau merasa bersalah. Cha Mu-hee bukan bahasa yang bisa diterjemahkan. Ia butuh dibaca pelan-pelan dan ditafsirkan. Karena itu, memahami Mu-hee adalah laku yang, secara profesional, menantang dan mengguncang konsep Ho-jin tentang bagaimana menerjemahkan;
Saya sering tanpa sengaja tertarik dengan buku-buku yang muncul sekilas dalam drama Korea (atau dalam film manapun, sebenarnya). Terutama, buku yang sudah saya baca. Melihat buku itu muncul di layar membuat saya merasa satu level dengan tokoh dalam drama tersebut. Sungguh perasaan yang konyol. Tapi bagaimana lagi? Kali ini, Sapiens-nya Harari muncul di meja Ho-jin, berserak bersama buku lain. Salah satu scene yang membuka adegan manis dan menggemaskan di drama ini yakni ketika Cha Mu-hee mencuri baca buku-buku Ho-jin sambil memakai kacamatanya; dilanjutkan dengan pura-pura ketinggalan kartu akses kamar hanya supaya bisa bersama dengan Ho-jin lebih lama. Adegan ini seakan menyetujui Harari secara konyol dan bilang, seperti halnya peradaban bisa dimulai dari gosip dan fiksi bersama, cinta juga bisa dimulai dari alasan yang dibuat-buat. Kebohongan manis itu tentu saja ketahuan; sama seperti kebohongan Cha Mu-hee lain yang hampir selalu ketahuan (dan Mbak Go Youn-jung selalu menggemaskan kalau pas ketahuan). Tapi Ho Jin sudah semakin pintar menerjemahkan Mu-hee. Jadi, ia biarkan dan memilih mengikuti alur kebohongan Mu-hee. Seakan ia mengerti, bahasa tidak selalu dipakai untuk menyampaikan maksud tetapi kadang justru untuk menyembunyikannya.
Meminjam terminologi Harari dalam Sapiens tentang kemampuan manusia menciptakan gosip dan fiksi untuk mendominasi bumi, Mu-hee tampaknya justru terjebak dalam "fiksi"-nya sendiri. Persona "Do Ra-mi" identik dengan dirinya dan berhasil menempatkannya di puncak popularitas. Tapi pada saat yang sama, Do Ra-mi juga menjadi teror yang muncul dari sisi gelap hidupnya sendiri. Namun, Ho-jin berhasil melucuti fiksi tersebut, menerjemahkan kegelisahannya, dan mengembalikan Cha Mu-hee sebagai diri yang bisa dicintai apa adanya, tanpa jeratan fiksi dan bias metafora.
Was this review helpful to you?